Senin, 12 September 2016

Cirebon Dadakan (3) : Sunan Gunung Jati

Assalamualaikum.

Wah, jauh juga ya update - nya dari tulisan sebelumnya ke tulisan yang ini. Kendalanya banyak. Apalagi bagi pejuang kuota malam seperti saya :p

Oke, chapter tiga ini, saya mau cerita soal tujuan selanjutnya di trip Cirebon bulan lalu. Awalnya saya mau skip aja, tapi sayang banget kalo nggak ditulis. Biar saya dan orang - orang tersayang bisa baca dan ingat semua kejadiannya kalau kelak kami lupa. Biar jadi kenangan, ya :)

Nggak terlalu jauh dari tempat makan kami, kami sampai di makam Sunan Gunung Jati. Beliau adalah satu - satunya Wali Songo yang menyebarkan Islam di Jawa Barat.

Courtesy of : Google

Kompleks Makam Sunan Gunung Jati memiliki lahan seluas lima hektar. Terletak di Desa Astana, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon. Jaraknya kira-kira 6 km sebelah utara Cirebon. 

Bapak kelewatan beloknya, jadi harus putar balik. Di sebelah kiri, ada plank bertuliskan " Makam Sunan Gunung Jati " tapi bapak terus melaju. 

" Pak, itu makamnya di sana! " Teriak saya.

" Bukan yang itu. Itu makam guru beliau. Syaikh Datuk Kahfi dari Baghdad. Nggak tahu kenapa kok ada petunjuknya kayak gitu. Makam Sunan masih di depan. " 

Saya dan tedhy hanya bisa manggut - manggut. Nggak jauh dari situ sih, jalan ke makamnya. Turun dari mobil, suasanyanya udah kayak Banten lama. Banyak orang jualan di pinggir area makam. Suvenir, makanan, minuman, dan lainnya. 

Matahari semakin terik. Saya melirik jam tangan, ternyata sudah hampir jam satu siang. Kami belum shalat dzuhur. Saya udah membayangkan akan begitu menyegarkannya wudhu di mesjid nanti. Semoga airnya nggak jadi hangat karena udara yang panas ini. Tapi saya keburu teringat kalau saat itu saya lagi berhalangan shalat. Mungkin wudhu saja cukup, ya. 

Sabtu, 27 Agustus 2016

Sebuah Perjalanan (1)

Assalamualaikum.
Selamat malam. 

Duh, nggak bisa tidur padahal lagi flu. Ada sih, kerjaan. Tapi maafkan mood yang sepertinya nggak lagi nggak mau dibawa mikir berat. PR saya menuntaskan cerita Cirebon Dadakan juga entah kenapa masih berat diselesaikan. Entah karena mood entah karena udah lupa lagi >_<

Malem ini, saya mau cerita sesuatu yang pribadi. Cukup berat sih untuk memutuskan mau cerita atau nggak. Karena mengingat rangkaiannya saja saya masih sering menangis, meskipun udah terjadi beberapa tahun yang lalu. 

Akhirnya malem ini mau cerita aja, deh. Gapapa nangis juga toh yang baca nggak lihat. He he. Saya awalnya ingin menutup semua cerita ini. Biar ini jadi rahasia saya. Bahkan A Angga (pacar saya) juga belum tahu. Saya sudah siap kalau Aa nggak suka dan meninggalkan saya ataupun kawan - kawan menilai saya buruk. Nggak masalah. Sudah biasa *eh

Ini udah pernah saya ceritakan di akun FB yang lama. Hanya saja, akun itu sudah saya hapus. Mungkin kawan - kawan menganggap saya lebay nantinya. Terimalah kenyataan bahwa ini blog saya. Saya bebas menulis apa saja. He he.

Minggu, 21 Agustus 2016

Beetalk : Discuss and Debate

Assalamualaikum. 
Selamat malam. 

Kali ini, saya mau prolog sedikit aja soal salah satu aplikasi yang saya favoritkan. Yaitu Beetalk. 

Awalnya mah biasa aja sih, nyari temen aja. Secara, bagi saya, di dunia nyata tuh susah ya dapat teman yang ngobrol. Aura ghoul yang saya punya mungkin terlalu kenceng, sehingga membuat orang - orang di sekitar saya mundur tiga petak duluan. Keberadaan medsos dan aplikasi - aplikasi begini ini sangat membantu seorang introvert seperti saya. 

Nah, Beetalk sendiri punya fitur Grup. Kita bisa gabung ke banyak grup yang sesuai sama minat kita. Seru - seru loh, grupnya.  Salah satunya, Discuss and Debate. 
 

Cirebon Dadakan (2) : Trusmi, Empal Gentong dan Kepanasan

Assalamualaikum. 
Selamat malem.
 
Lanjut ya, ceritanya!
Nah, setelah sampai di Cirebon, Bapak ngajak kami makan. Beliau merekomendasikan Empal Gentong Hj. Apud. Bapak sering kerja mobile, jadi Beliau selalu tahu tempat yang oke. Selain itu, Bapak memang orang sini, sih :D 

Saya yang omnivor ini tentu langsung semangat. Berbeda dengan Tedhy yang merengut mendengar kami akan makan daging. Maklum, dia vegan. 

Selepas dari pintu tol, saya nengok kiri kanan dengan heboh, seolah berusaha menangkap dan mengingat setiap inci jalanan yang kami lalui. Rasanya nggak percaya bisa jalan - jalan ke sana. Sampai akhirnya saya lihat billboard yang meyakinkan saya bahwa saya memang ada di Cirebon saat itu.